Perpisahan
Namaku Emma. Duduk di bangku SMP kelas 3. Aku mempunyai seorang sahabat bernama Putri. Dari kecil kami sudah dekat.Disekolahku dialah satu-satunya sahabatku di kelas. Kami dijauhi oleh
teman-teman karena kami miskin. Maklum saja kami bisa sekolah disini karena beasiswa dari
sekolah kami di SD. Setiap ada kerja kelompok, kami berdua dijauhi dan tidak
ada yang memilih kami. Hanya Putri
saja yang selalu ada
disaat aku membutuhkannya. Kami sangatlah dekat. Setiap hari kami selalu bersama.
Dari masih bayi, TK, SD, sampai sekarang. Meyla adalah orang yang sangat baik.
Dia perhatian, suka mengalah, rajin, berbeda dengan aku yang kadang kadang suka
egois.Hari ini aku diajaknya untuk menginap di rumah neneknya. Kami berangkat dengan angkutan umum. Dalam perjalanan kami bercanda dan mengobrol. Akhirnya sampai juga dirumah neneknya. Kami lansung disuguhi makanan. Makanan neneknya enak sekali.Neneknya sangat pandai memasak. Kepandaian itu menurun ke cucunya. Putri memiliki cita-cita menjadi juru masak dan bisa membuka restoran sendiri. Tidak seperti aku yang selalu menunggu ibuku untuk masak. Selepas itu kami beristirahat diruang tamu.
“Put, aku ingin sekali keluar negri. Aku iri semua teman kita pernah keluar negri. Tapi itu semua mustahil” kataku. “ya kita harus bersabar Em. Akupun ingin pergi juga. Tapi penghasilan orang tua kita pas-pasan.kita juga harus bersyukur atas nikmat tuhan. Siapa tahu beberapa tahun kedepan kita bisa pergi kesana” jawab Putri. “Oh ya, besuk lusa kita ulang tahun apa yang kamu inginkan ?”. Tanggal lahir kami sama yaitu 13 April 2000.
“Aku hanya ingin keluarga kita sehat selalu. Sampai kapanpun aku ingin kita selalu bersama dan bersahabat.” Aku terdiam Putri sangatlah baik. Kalau aku biasanya sudah minta dibelikan barang bagus. Sore ini aku diajak Putri dan Pamannya untuk ke supermarket. Ya sekedar beli kebutuhan sehari-hari. Pamannya hanya memiliki dua helm. Putri mengalah dan menyuruhku memakainya.Putri dudk di tengah dan aku dibelakang dia berbalik dan tersenyum padaku “Terimakasih ya Emm” katanya. “Terimakasih telah menjadi sahabatku yang baik selama ini.” Tambahnya. Senyumnya sangat berbeda dari biasanya, wajahnyapun terlihat berseri-seri.
Jarak dari rumah neneknya ke supermarket kira-kira delapan kilometer. Dijalan pamannya sangat berhati-hati karena hujan turun tadi siang. Tiba-tiba mobil menyerempet sepeda pamannya Putri. Aku terlempar ke aspal untung aku pakai helm. Kaki terasa sakit. Aku melihat ke Arah Putri. “Ya tuhan dia pingsan dan kepalanya mengeluarkan darah. Beberapa detik kemudian semua yang aku lihat menjadi hitam. Ketika aku kembali membuka mataku, barang-barang disekitarku menjadi putih. Ternyata sekarang aku dirumah sakit. “kau mengalami kecelakaan. Mobil sedan tidak sengaja menyerempet sepeda pamannya Putri. Untung kau dan pamannya tidak apa-apa. Hanya keseleo dibagian kaki.” Tiba-tiba ayahku dan berkata seperti itu.
“Bagaimana keadaan Putri ?” tanyaku kepada ayah. Ayah terdiam saja “Bagaimana keadaan Putri ayah? Jawab aku ayah ?” Tanyaku sekali lagi. “sahabatmu tidak tertolong nak, dia banyak mengeluarkan darah”. Seketika itu aku menangis menjadi-jadi. Aku tidak percaya sahabat yang aku saying kini telah tiada. Banyak kenangan yang kita lalui bersama. Aku berusaha berhenti menangis namun tidak bisa.
“Kau harus merelakannya nak. Mungkin kau menyanyangi Putri, tetapi tuhan juga menyayanginya Nak. Ini semua sudah rencana Tuhan. Tuhan adalah yang terbaik buat kita percayalah nak”. Aku mengulang kenangan bersamanya, bercanda, tertawa, belajar bersama, saling membantu. Semua yang kita lewati bersama. Mengapa harus dia? Mengapa?.
Wiji dan Caca
Suatu saat Wiji dan Caca sedang
bermain mobil-mobilan didepan rumahnya Wiji. Kemudian Caca melihat
layang-layang putus “Ji ada laying-layang putus kita kejar yuk” tanya Caca.
“Yuk kejar” jawab Wiji . mereka mengejar
layang-layang tersebut dan meninggalkan
mobil-mobilanya.”Wah nyangkut dipohon ji” kata Caca. “iya pasti sulit
ngambilnya, pulang saja yuk” mereka akhirnya kembali pulang .“Wah siapa nih yang nginjak-nginjak tanaman jagung ini, baru tumbuh lagi jagungnya rusak semua! Pasti anak-anak nakal itu. Hei kalian kemari.” Kata Bu Sri marah melihat kebunnya diinjak injak oleh Wiji dan Caca. “wah kabur yuk kita bisa dimarahi” kata Wiji ke Caca. “yuk kita lari saja”saat mereka akan lari tangan mereka ada yang memegang “mau lari kemana kalian ? lihat apa yang kalian lakukan. Hancur semua tanaman jagungku kalian injak-injak”
“Maaf bi, maaf kami salah tolong jangan laporkan ke orang tua kami bi “ kata Caca ketakutan “iya bi maaf, kami janji gak akan mengulangi lagi” tambah Wiji “baik kalian akan Bibi maafkan tapi jangan ulangi lagi dan Bantu bibi merawat tanaman jagung itu sampai panen”. “baik bi terima kasih,kami pulang dulu bi” jawab Wiji dan Caca.
Akhirnya mereka kembali pulang “Wah tiap hari harus bantu Bibi Sri merawat tanaman jagungnya sampai panen. Ini gara-gara kamu Ca ngajak ngejar laying-layang putus jadi masalahkan” ucap Wiji. “Halah kamu juga mau” jawab Caca. Sebelum mereka berdua sampai rumah,Ilyas lewat depan rumah dan melihat ada mobil-mobilan. Karena tidak ada siapa-siapa Ilyas mengambil mobil-mobilan itu dan segera pergi.
Sesampai dirumah Wiji dan Caca kaget karena melihat mobil-mobilannya tidak ada “Ca dimana mobil-mobilan kita tadi kok gak ada”.tanya Wiji “Aku juga gak tahu, tadi kita meninggalkannya disini” Jawab Caca. Akhirnya mereka menangis karena kehilangan mobil-mobilan tersebut
Hasan dan Rayap
Pada saat liburan. Hasan
pergi ke hutan untuk berpiknik dengan guru dan teman-teman sekelasnya.
Setibanya di sana, mereka mulai bermain petak umpet.
Tiba-tiba, Hasan
mendengar sebuah suara menjerit, “Hati-hati!” Hasan mulai menengok melihat ke
kanan dan ke kiri, tak pasti darimana suara itu berasal. Namun, tak seorangpun
di sana. Kemudian, didengarnya suara yang sama. Kali ini, suara itu berkata,
“Aku ada di bawah sini!” Tepat di sebelah kakinya, Hasan melihat seekor hewan
kecil yang tampak mirip sekali dengan semut.
“Kamu siapa?” tanya
Hasan. “Aku adalah seekor rayap,” makhluk mungil itu menjawab. “Aku tidak
pernah mendengar makhluk yang bernama rayap,” ledek Hasan. “Kamu tinggal
sendiri?” “Tidak,” jawab hewan kecil itu, “Kami tinggal di sarang-sarang dalam
kelompok-kelompok besar. Kalau kamu mau, aku akan memperlihatkan salah satu
padamu.”
Hasan setuju, dan mereka
berjalan. Ketika mereka tiba, apa yang diperlihatkan rayap pada Hasan tampak
seperti sebuah bangunan tinggi tanpa jendela. “Apa ini?” Hasan ingin tahu. “Inilah
rumah kami,” rayap itu menjelaskan.”Kami membangunnya sendiri.”
“Tapi, kamu begitu
kecil,” bantah Hasan. “Kalau teman-temanmu ukurannya juga sama denganmu,
bagaimana mungkin kalian bisa membuat sesuatu yang begitu besar seperti ini?” Rayap
tersenyum. “Kamu memang pantas terkejut. Makhluk kecil seperti kami mampu membuat
tempat-tempat seperti ini benar-benar mengejutkan. Tapi jangan lupa, semua ini
gampang saja untuk Allah, Pencipta kita semua.”
“Lebih dari itu, selain
sangat tinggi, rumah-rumah kami memiliki keistimewaan-keistimewaan lain.
Misalnya, kami membuat ruang-ruang khusus untuk anak-anak, tempat-tempat untuk
menumbuhkan jamur, dan kamar tempat ratu bertahta di rumah-rumah kami. Kami
tidak lupa membuat sebuah sistem pertukaran hawa untuk rumah kami. Dengan cara
itu, kami dapat menyeimbangkan kelembapan dan suhu di dalam ruangan. Dan,
sebelum aku lupa, biarkan aku memberitahu hal-hal lain. Kami ini tidak bisa
melihat!
Hasan sangat takjub.
“Meskipun kamu begitu kecil sampai-sampai sulit terlihat, kamu bisa membuat
rumah-rumah persis seperti gedung-gedung tinggi yang dibuat manusia. Bagaimana
kalian melakukan ini semua?”
Rayap itu lagi-lagi
tersenyum. “Seperti kukatakan sebelumnya, Allah-lah yang memberi kami semua
bakat-bakat luarbiasa ini. Ia menciptakan kami sedemikian rupa hingga kami
mampu melakukan hal-hal semacam ini. Ssekarang aku harus pulang ke rumah dan
membantu teman-temanku.”
Hasan memahami. “Oke, aku sendiri ingin pergi dan
memberitahu orangtua serta teman-temanku tentang apa yang telah kupelajari
darimu barusan.”. “Gagasan yang bagus, ” Rayap melambaikan tangan. “Jaga
dirimu. Semoga kita bisa bertemu lagi.”
Arti Sahabat
Hendra mengusap
keringat yang bercucuran didahinya. Setelah sejam lamanya, akhirnya ia bisa
mengumpulkan satu karung rumput. Sudah beberapa hari ini Hendra bekerja keras
mencari rumput sepulang sekolah. Ia belum berhenti sampai hari gelap. Rumput-rumput
itu nantinya akan ia jual pada Haji Bukhori.
Hendra memang ingin mengumpulkan uang untuk
membeli sesuatu. Untuk minta uang pada orang tuanya, jelas tidak mungkin.
Keluarganya hidup sangat sederhana.Terbayang dibenak Hendra wajah Rizal. Baru dua
bulan lalu Rizal pindah ke sekolah Hendra. Rizal berasal dari keluarga berada.
Tak heran bila uang jajannya selalu
berlebih. Hendra jadi sering ketiban rezeki. Rizal sering mentraktir Hendra
jajan.
Rizal juga sering mengajak Hendra bermain game
di rumahnya. Ditambah lagi dengan hidangan kue-kue lezat dan minuman ringan.
Semua itu jarang sekali bisa dinikmati Hendra. Semula Hendra menikmati kebaikan
Rizal. Akan tetapi akhir-akhir ini Rizal selalu menyinggung pemberiannya pada
Hendra.
“Kamu harus kasih aku contekan, ya, pas ulangan
nanti! Aku kan, sering mentraktirmu.” Begitulah salah satu kalimat Rizal, yang
membuat Hendra jadi serba salah. Jika tidak memberi contekan pada Rizal, Hendra
merasa tidak tahu balas budi. Namun jika memberi contekan, ia merasa telah
berlaku curang. Selain masalah contekan, Rizal juga sering menyuruh Hendra.
Kini Hendra mulai mengerti, apa arti kebaikan
Rizal selama ini. Ternyata Rizal melakukannya dengan pamrih. Rizal berbuat baik
pada Hendra, agar ia mau mengikuti semua keinginan Rizal. Hendra jadi malas
bersahabat dengan Rizal.
Sudah tiga hari ini Hendra mencoba menghindari
Rizal. Berkali-kali Rizal masih menyinggung pemberian-pemberiannya pada Hendra.
Namun Hendra memilih diam dan menyingkir. Hendra bertekad untuk mengumpulkan
uang dan mengganti semua pemberian Rizal selama ini. Ia tak ingin terikat balas
budi pada Rizal. Itu sebabnya selama tiga hari ini ia sibuk memotong rumput.
Pada sore hari ketiga, Rizal memergoki Hendra
yang sedang mencari rumput. Ia tertawa melihat Hendra yang berkeringat memasukkan
rumput kedalam karung. Hendra semakin jengkel saja melihat ulah Rizal. Teman
barunya itu ternyata bukan sahabat yang baik.
Genap pada hari ke delapan, Hendra sudah
memegang uang yang cukup banyak. Ia tahu mungkin uang itu tak cukup menggantikan
semua pemberian Rizal selama ini. Tapi ia tak peduli. “Aku ingin tunjukkan,
kalau aku tidak berhutang budi lagi padanya!” tekad Hendra.
Usai istirahat, Hendra memberikan semua uang
hasil penjualan rumput itu pada Rizal. Rizal hanya melongo heran melihat uang
dari Hendra. “Terimalah uang ini! Ini sebagai ganti dari semua yang sudah kamu
berikan padaku. Aku tidak akan memberimu contekan lagi!” kata Hendra. Rizal terkejut
mendengar ucapan Hendra.
Akan tetapi ia heran, karena sejak tadi pagi
Hendra selalu menyembunyikan tangan kirinya. Rizal menarik perlahan tangan kiri
Hendra. Ia terkejut melihat tangan Hendra diperban.“Tanganmu?”
“Selama delapan hari aku mencari rumput untuk
mengumpulkan uang ini. Aku ceroboh waktu mencari rumput kemarin. Tanpa sengaja
sabit yang kuayunkan mengenai tanganku. Tapi sudahlah, yang penting aku bisa
membayar hutangku. Mungkin uang ini masih kurang sepadan dengan pemberianmu
selama ini. Lain kali kalau aku punya uang lebih, pasti akan aku bayar. Kamu
bukan sahabat yang baik, Rizal.”
Rizal terkejut mendengar semua penjelasan
Hendra. Ia tidak menyangka kalau ulahnya telah membuat Hendra menderita. Rizal
memandangi tangan Hendra dengan perasaan sangat bersalah.Hendra lalu pergi
meninggalkan Rizal sendirian. Rizal menatap uang pemberian Hendra. Ia membayangkan
betapa sulitnya Hendra mengumpulkan uang itu. Mulai detik itu, Rizal berjanji
untuk menjadi sahabat yang baik buat Hendra. Sahabat yang memberi tanpa pamrih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar